2 Tahun Asta Cita, Nurdin Tampubolon: Penguasaan Teknologi Kunci Utama Hilirisasi Nasional

2 Tahun Asta Cita, Nurdin Tampubolon: Penguasaan Teknologi Kunci Utama Hilirisasi Nasional

Nusantaratv.com - 28 Oktober 2026

Presiden Komisaris NT Corp Nurdin Tampubolon dalam program Suara Nusantara di Nusantara TV. (Foto: Toga Ibnu Pratama)
Presiden Komisaris NT Corp Nurdin Tampubolon dalam program Suara Nusantara di Nusantara TV. (Foto: Toga Ibnu Pratama)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Presiden Komisaris NT Corp, Nurdin Tampubolon, menegaskan bahwa kekuatan ekonomi suatu negara sangat bergantung pada daya saing produk korporasi, UMKM, serta barang dan jasa di pasar global. Hal tersebut disampaikannya dalam program Suara Nusantara bertajuk "Mengawal 2 Tahun Asta Cita" yang tayang di Nusantara TV, Rabu, 28 Oktober 2026.

Mengutip pandangan ekonom dan peneliti Harvard University, Michael Porter, Nurdin menyatakan bahwa sebuah negara tidak akan pernah menjadi negara yang kuat selama produk-produknya belum mampu bersaing secara global. Pemikiran strategis ini, menurutnya, telah dijabarkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui program Asta Cita, khususnya poin kelima yang berfokus pada hilirisasi.

"Beliau menyatakan, 'Saya tidak mau bahwa hasil bumi kita diangkut ke luar negeri.' Ini memicu seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan Indonesia untuk membangun teknologi dan dunia usaha yang dikelola oleh bangsa sendiri," ujar Nurdin, NT Tower, Jakarta.

Nurdin menyoroti pentingnya efisiensi dalam dunia usaha, di mana peningkatan pendapatan (revenue) harus dibarengi dengan penurunan biaya (cost) melalui peningkatan produktivitas. Kendati demikian, ia mengingatkan agar konsep hilirisasi tidak disalahartikan sebagai sekadar relokasi industri asing ke dalam negeri.

"Ada sebagian korporasi atau masyarakat kita yang menganggap hilirisasi itu adalah relokasi industri dari luar. Ini keliru. Relokasi itu memang memproduksi barang dan jasa di sini, tetapi teknologi tetap milik luar. Sama saja bohong," tegasnya.

Ia mencontohkan kasus di masa lalu, seperti industri alas kaki di Banten, di mana ketika biaya operasional di Indonesia menjadi lebih tinggi dibandingkan negara lain, industri tersebut dengan mudah memindahkan pabriknya ke Vietnam atau Kamboja karena penguasaan teknologi sepenuhnya berada di tangan asing.

Oleh karena itu, Nurdin menekankan bahwa Presiden Prabowo menghendaki agar penguasaan teknologi mutlak berada di tangan bangsa Indonesia. Teknologi dinilai tidak akan pernah ditransfer secara sukarela oleh pemiliknya, melainkan harus direbut melalui penguatan riset dan pengembangan (research and development).

"Makanya beliau sekarang memperkuat lembaga-lembaga riset seperti BRIN untuk penguasaan teknologi dalam mendukung sumber daya alam kita," katanya.

Sebagai contoh konkret, Nurdin menyebutkan produksi baterai untuk kendaraan listrik (electric vehicle) serta pengembangan industri berbasis perkebunan seperti implementasi B50. Dengan strategi jangka panjang ini, kekayaan alam Indonesia tidak lagi diekspor dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi, sehingga seluruh pendapatan dari pemanfaatan sumber daya alam dapat sepenuhnya tinggal di dalam negeri.

Namun, Nurdin juga mengingatkan bahwa target besar ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat, mengingat proses penguasaan teknologi dan riset untuk masing-masing komoditas memerlukan waktu yang komprehensif.

Untuk mewujudkannya, ia menyerukan adanya kolaborasi lintas sektor yang erat antara pemerintah, akademisi, lembaga riset, korporasi, media, dan masyarakat.

"Apabila produk Indonesia sudah menjadi tuan di negeri sendiri dan bukan lagi sekadar menjadi pasar bagi negara asing, itulah target utama pemerintahan kita saat ini," pungkas Nurdin.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close