Agus Sudibyo: Trade Agreement Global Harus Lindungi Kedaulatan Informasi Indonesia

Agus Sudibyo: Trade Agreement Global Harus Lindungi Kedaulatan Informasi Indonesia

Nusantaratv.com - 10 April 2026

Ketua Bidang Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia, Agus Sudibyo dalam forum diskusi “Menjaga Kedaulatan Media Nasional di Tengah Tekanan Perjanjian Dagang Global” yang digelar di Meeting Room Novotel Jakarta Timur, Jumat (10/4/2026). (Tangkap layar Youtube Nusantara TV)
Ketua Bidang Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia, Agus Sudibyo dalam forum diskusi “Menjaga Kedaulatan Media Nasional di Tengah Tekanan Perjanjian Dagang Global” yang digelar di Meeting Room Novotel Jakarta Timur, Jumat (10/4/2026). (Tangkap layar Youtube Nusantara TV)

Penulis: Alamsyah

Nusantaratv.com — Ketua Bidang Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia, Agus Sudibyo, menyoroti dinamika global yang semakin mempengaruhi arah perjanjian dagang internasional, termasuk dampaknya terhadap sektor media dan kedaulatan informasi nasional.

Hal tersebut disampaikannya dalam forum diskusi bertajuk “Menjaga Kedaulatan Media Nasional di Tengah Tekanan Perjanjian Dagang Global” yang digelar di Meeting Room Novotel Jakarta Timur, Jumat (10/4/2026).

Menurut Agus, perkembangan geopolitik global, termasuk dinamika di Timur Tengah serta kebijakan perdagangan Amerika Serikat, turut memengaruhi isi dan arah perjanjian dagang yang melibatkan banyak negara, termasuk Indonesia.

“Situasinya sangat dinamis. Apa yang terjadi di Timur Tengah dan kebijakan di Amerika Serikat juga akan mempengaruhi semua bentuk perjanjian dagang dengan negara lain, termasuk Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: Agar Tidak Menjadi Ruang Bebas Tanpa Tanggung Jawab, KSP Dorong Media Sosial Memiliki Identitas

Ia juga menilai bahwa tren global saat ini menunjukkan meningkatnya praktik proteksionisme, di mana negara-negara besar justru memperkuat perlindungan terhadap kepentingan industri strategis mereka, termasuk perusahaan teknologi global.

Agus mencontohkan perusahaan teknologi besar seperti Google, Facebook, Amazon, Microsoft, dan Apple yang menurutnya tidak hanya berperan sebagai entitas bisnis, tetapi juga membawa kepentingan geoekonomi dan politik negara asalnya.

“Perusahaan-perusahaan ini adalah flag carrier Amerika Serikat yang membawa kepentingan ekonomi politik mereka di seluruh dunia,” jelasnya.

Ia menambahkan, perlakuan terhadap perusahaan teknologi global tersebut berbeda antara di dalam negeri Amerika Serikat dan di luar negeri. Di dalam negeri, perusahaan-perusahaan itu justru kerap dikritik dan diawasi ketat, sementara di luar negeri mereka memperoleh perlindungan dan ruang ekspansi yang besar.

Dalam konteks perjanjian dagang, Agus menilai bahwa isu media dan informasi kini tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai urusan perdagangan barang seperti komoditas.

“Di dalam trade agreement, tiba-tiba ada klausul yang mengatur media dan informasi. Kita baru sadar bahwa ini bukan sekadar urusan sawit atau nikel,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Indonesia perlu melihat peluang dalam situasi tersebut, terutama untuk memperkuat kedaulatan digital dan ekosistem media nasional.

Menurutnya, pemerintah, industri media, dan komunitas pers memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga arus ekonomi digital agar tidak sepenuhnya mengalir ke luar negeri.

“Belanja iklan digital sekitar 80 persen lari ke platform global. Ini berarti surplus ekonomi kita ikut keluar,” ujarnya.

Agus juga mendorong agar pemerintah lebih tegas mengatur belanja iklan BUMN dan institusi negara agar lebih berpihak pada media nasional, sehingga perputaran ekonomi tetap berada di dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja.

“Kalau 80 persen sampai 100 persen belanja itu diarahkan ke media nasional, itu bukan hanya membantu industri media, tapi juga menjaga ekonomi nasional,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close