Nusantaratv.com-Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Djayadi Hanan menilai tingkat popularitas Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat ini masih berada di kisaran 65 hingga 70 persen, angka yang dinilai belum cukup kuat untuk menjadikannya contender (kandidat kuat) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Hadir dalam program diskusi GESTURE di Nusantara TV, Kamis (17/9) yang dipandu Host Maria Anneke, Djayadi membandingkan popularitas AHY dengan nama-nama potensial lain seperti Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi (KDM), Gibran Rakabuming Raka, hingga Anies Baswedan yang tingkat popularitasnya di masyarakat sudah berada di atas 90 persen.
"Popularitasnya AHY sekarang berada di posisi sekitar 65 sampai 70%. Kurang lebih 65% itu belum cukup untuk menjadi kontender presiden yang kuat," ujar Djayadi dalam diskusi yang juga menghadirkan Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra sebagai narasumber.
Ia menambahkan bahwa ketertinggalan angka keterkenalan ini menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi AHY di tengah sengitnya bursa kepemimpinan nasional.
"Karena contender yang lain kalau memang atau nama-nama yang lain seperti Pak Prabowo, KDM, Gibran, terutama tiga ini, Anies, ya itu semua tingkat popularitas sudah di angka 90% ke atas," tegasnya
Peluang Meningkatkan Keterkenalan dan Elektabilitas
Meski menjadi pekerjaan rumah (PR) besar, Djayadi memandang kondisi ini sekaligus sebagai peluang terbuka bagi AHY. Sebab, AHY masih memiliki ruang sekitar 30 persen untuk meningkatkan popularitasnya di tengah publik melalui kerja-kerja politik.
Baca juga: HUT ke-25 Partai Demokrat, AHY: Politik Bukan Sekadar Kekuasaan, tapi Memenangkan Masa Depan Rakyat
"Jadi itu PR sekaligus peluang yang masih ada di AHY. Karena apa? Karena artinya dia masih punya ruang untuk meningkatkan diri, masih ada ruang sekitar 30-an% dengan kerja-kerja yang lebih konvensional, artinya meningkatkan popularitas," terangnya.
Menurut Djayadi, AHY sebenarnya tidak memiliki masalah dalam hal tingkat kesukaan (likeability) masyarakat. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengubah popularitas dan kedisukaan tersebut menjadi keterpilihan atau elektabilitas
"Kalau tingkat kedisukaan itu miriplah dengan yang lain, enggak terlalu jadi masalah. Tinggal bagaimana mengubah kedisukaan itu dan popular menjadi elektabilitas, saat ini posisinya masih di bawah KDM, di bawah Prabowo, di bawah Anies," lanjut Djayadi
Modal Pengalaman Pemerintahan dan Partai
Di luar aspek popularitas, Djayadi menilai AHY telah mengantongi modal personal lain yang terbilang kuat untuk melangkah ke panggung kepemimpinan nasional, yaitu pengalaman di jajaran pemerintahan sebagai Menteri Koordinator (Menko) serta rekam jejak kepemimpinan di partai politik
"Modal personalnya juga adalah pengalaman. Kalau sekarang dia sudah bisa klaim punya pengalaman pemerintahan, ini yang paling kuat, Menko kan dia punya pengalaman pemerintahan... plus pengalaman politik memimpin partai, jadi cukup lengkap di sisi itu," pungkas Djayadi.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh