Nusantaratv.com - Penasihat Ahli Kapolri, Edi Saputra Hasibuan, berharap penindakan terhadap narkoba betul-betul dilaksanakan.
Menurutnya, pemberantasan narkoba tidak bisa hanya dilakukan oleh Polri. Sebab, peredaran narkoba memiliki banyak jalur masuk ke Indonesia, termasuk melalui pelabuhan-pelabuhan tikus.
"Tentu saja memang yang kita harapkan, penindakan terhadap narkoba ini betul-betul dilaksanakan," ujar Edi Saputra dalam program "MERAH PUTIH" yang tayang di Nusantara TV, Jumat (30/10/2026).
Masalah narkoba, menurutnya, tidak bisa kalau hanya dilakukan oleh Polri.
"Kalau kita melihat selama ini, berdasarkan pengamatan yang kita lakukan, termasuk kita lihat banyak pintu-pintu masuk. Itu masuk dari bukan hanya pelabuhan atau bandara, tidak demikian. Tetapi kecenderungan saat ini adalah banyak obat-obatan atau narkoba itu banyak lewat pelabuhan-pelabuhan tikus yang ada," ujar Edi.
Dia mencontohkan, jalur masuk narkoba melalui pelabuhan-pelabuhan tikus tersebut bisa ditemukan di sejumlah wilayah pesisir.
"Kayak misalnya kalau di Jakarta mungkin ada Anyer, di sana. Mungkin juga bisa di tempat lain. Bahkan kalau kita lihat saat ini, ada kecenderungan narkoba itu masuk dari daerah-daerah atau Polda-Polda yang punya pantai. Dan itu sangat rawan," katanya.
Edi Saputra juga mengapresiasi langkah Kapolri yang dalam satu bulan terakhir telah mencatat sejumlah capaian dalam pemberantasan narkoba.
Menurutnya, sejumlah pengungkapan kasus dilakukan secara beruntun, mulai dari penggerebekan kampung narkoba di Jakarta, Medan, hingga Aceh.
"Dan kita beruntung kemarin Bapak Kapolri, dalam satu bulan bekerja, kemudian banyak capaian. Banyak capaian yang sudah dilakukan, termasuk penggerebekan kampung narkoba di Jakarta. Kemudian beruntun sampai di Medan, ada penyungkapan 1,1 sabu. Kemudian lanjut lagi di Aceh," ungkapnya.
Dia menambahkan, berdasarkan pengamatannya, sejumlah Polda saat ini juga bergerak secara serentak melakukan pemberantasan narkoba di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, jajaran Polres turut melakukan penggerebekan melalui Operasi Sarang Narkoba (OSN).
"Dan saya kira saat ini kalau kita lihat, yang kami amati kemarin dari sejumlah Polda, dari banyak Polda itu secara serentak saat ini dilaksanakan di seluruh Indonesia. Bahkan Polres pun saat ini juga melakukan sama, termasuk melakukan penggerebekan. Namanya atau istilahnya OSN (Operasi Sarang Narkoba). Itu sekarang di seluruh Polres di Indonesia, itu bergerak cepat bagaimana caranya biar memberantas," jelasnya.
Meski demikian, Edi menegaskan pemberantasan narkoba membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya Polri, tetapi juga Badan Narkotika Nasional (BNN), Bea Cukai, hingga lembaga pemasyarakatan (lapas).
"Kita bersyukur kemarin ada juga BNN bersama-sama kemudian bersinergi. Dan saya kira ini adalah merupakan suatu kekuatan besar. Dan kita harapkan juga Bea Cukai nanti akan memperkuat. Kemudian juga saya kira lapas itu juga perlu punya andil besar. Kenapa? Karena selama ini kalau yang kita lihat adalah banyak ungkapan sindikat itu juga justru dikendalikan dari penjara," tuturnya.
Edi berharap seluruh pihak dapat menjalankan peran masing-masing agar peredaran narkoba bisa ditekan.
"Dan kita harapkan jika semua pihak terlibat, kemudian punya peran masing-masing. Saya yakin masalah peredaran ini karena kita akan aman," katanya.
Lebih lanjut, Edi Saputra menyinggung penindakan terhadap anggota Polri yang terlibat narkoba. Dia menegaskan, pangkat dan jabatan tidak menjadi penghalang bagi institusi untuk memberikan sanksi tegas.
Menurutnya, anggota Polri yang terbukti terlibat narkoba dapat diberhentikan, bahkan jika yang bersangkutan memiliki pangkat jenderal.
"Saya kira kalau kita lihat, pengalamannya lalu-lalu adalah ketika misalnya ada oknum, termasuk anggota Polri. Jangankan bintara, jenderal pun terlibat, bintang dua dipecat. Bahkan di penjara saat ini," ungkapnya.
Dia menilai hal tersebut menunjukkan keseriusan Polri dalam membersihkan internal institusi dari penyalahgunaan narkoba.
"Artinya kalau kita lihat ini adalah merupakan keseriusan dari Polri, bagaimana membersihkan anggota agar tertib dari narkoba," ujarnya.
Meski begitu, Edi berharap penindakan terhadap anggota Polri yang terbukti terlibat narkoba dapat semakin ditingkatkan dan dilakukan secara tegas.
"Saya berharapkan ke depan itu lebih tegas lagi. Artinya memang ke depan, jika ada terbukti pecat. Terbukti pecat. Tapi tentu saja semua kan ada aturannya, sehingga masyarakat juga akan melihat bahwasannya memang Polri serius," tegasnya.
Dia juga berharap langkah penindakan yang dilakukan Polri dapat menjadi contoh bagi institusi lain. Menurutnya, apabila terdapat anggota dari institusi lain yang terlibat narkoba, penindakan serupa juga perlu diterapkan.
"Dan sekarang kita lihat dari institusi lain, kita harapkan apa yang dilakukan Polri itu juga bisa dicontoh. Kemudian bersama-sama, ada dari institusi lain terlibat juga diberikan hal yang sama," katanya.
Edi Saputra menegaskan, narkoba merupakan musuh negara, bangsa, dan masyarakat. Karena itu, penindakan tegas diperlukan agar peredarannya tidak terus meluas.
"Kemudian kita tahu bahwasannya narkoba adalah musuh negara, musuh bangsa ini, musuh rakyat. Kalau tidak dilakukan penindakan dengan tegas, maka narkoba terus beredar di sekeliling kita," tukasnya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh