Nusantaratv.com - Suzuki mengungkap peta jalan teknologi otomotifnya untuk dekade mendatang.
Pabrikan Jepang tersebut akan mengembangkan beragam teknologi elektrifikasi, mulai dari mild hybrid, hybrid series, hingga range extender electric vehicle (REEV), sembari tetap mempertahankan pengembangan mesin bensin (ICE).
Strategi tersebut mengusung pendekatan multi-pathway (multi-jalur) dengan fokus pada modularitas, efisiensi, bobot kendaraan, serta waktu pengembangan yang lebih singkat.
Mengutip Carscoops, Rabu (30/9/2026), Suzuki menargetkan proses pengembangan kendaraan baru dapat dipangkas menjadi hanya 24 bulan pada 2030.
Salah satu teknologi yang menarik perhatian adalah REEV Light, atau sistem range extender ringan. Teknologi ini dikembangkan dari sistem hybrid seri yang menggunakan mesin pembakaran internal (ICE) sebagai generator untuk memasok energi listrik ke motor penggerak.
Suzuki Kembangkan e-Axle Modular untuk BEV dan Hybrid
Suzuki juga tengah mengembangkan sistem e-Axle modular sebagai bagian dari strategi elektrifikasinya. Sistem e-Axle 3-in-1 yang digunakan pada mobil kei listrik eWX akan berevolusi menjadi unit 6-in-1 dengan dimensi yang sama.
Teknologi tersebut nantinya dapat digunakan pada kendaraan BEV maupun HEV melalui filosofi Suzuki yang disebut "Right x Light Mobile Tech". Untuk kendaraan subkompak, kompak, hingga ukuran menengah, Suzuki juga menyiapkan versi e-Axle yang berukuran sekitar 10% lebih besar.
Pada kendaraan listrik perkotaan seperti eWX, sistem tersebut akan menggunakan motor listrik depan bertenaga 94 hp (70 kW/95 PS). Varian penggerak empat roda (4WD) akan mendapatkan tambahan motor belakang dengan tenaga 13 hp (10 kW/14 PS).
Untuk kendaraan yang lebih besar, Suzuki menyiapkan e-Axle utama dengan tenaga 174 hp (130 kW/177 PS) serta motor e-4WD belakang opsional berdaya 40 hp (30 kW/41 PS). Suzuki juga menargetkan penggunaan motor listrik yang minim atau bebas dari logam tanah jarang berat untuk meningkatkan keberlanjutan sekaligus mempermudah proses daur ulang.
Hybrid Suzuki Ditargetkan Pangkas Emisi CO2
Suzuki akan memperkenalkan sistem mild hybrid generasi baru untuk kendaraan yang lebih kecil. Teknologi tersebut ditargetkan mampu memangkas emisi karbon hingga 15%, atau setara pengurangan sekitar 150 kg CO2 setiap 10.000 km.
Sementara itu, sistem HEV seri yang lebih canggih ditargetkan mampu mengurangi emisi hingga 29%. Artinya, potensi pengurangan CO2 dapat mencapai sekitar 300 kg setiap 10.000 km.
Pada sistem HEV seri ini, mesin pembakaran internal tidak secara langsung menggerakkan roda. Mesin berfungsi sebagai generator untuk menghasilkan listrik, sementara motor listrik menjadi penggerak utama kendaraan.
Arsitektur tersebut juga membuka peluang pengembangan menjadi REEV Light. Suzuki dapat menambahkan kemampuan plug-in sekaligus menyesuaikan kapasitas baterai sesuai kebutuhan kendaraan.
Konsep ini memungkinkan Suzuki menawarkan kendaraan dengan karakter berkendara seperti mobil listrik tanpa harus menggunakan baterai berkapasitas sangat besar. Dengan begitu, teknologi range extender diharapkan dapat menjawab kekhawatiran konsumen terkait jarak tempuh kendaraan listrik.
Menurut laporan Autocar India, Baleno dan Fronx menjadi dua model Suzuki yang diperkirakan dapat mengadopsi sistem HEV seri terbaru. Model lain seperti S-Cross, Vitara, Grand Vitara, dan Victoris juga berpotensi menggunakan teknologi tersebut.
Suzuki Tetap Kembangkan Mesin Bensin Turbo
Meski mempercepat elektrifikasi, Suzuki tidak meninggalkan mesin pembakaran internal. Perusahaan tengah mengembangkan mesin bensin turbo dengan direct injection untuk sejumlah pasar, termasuk India. Versi berbahan bakar CNG juga berpotensi menyusul.
Suzuki menargetkan peningkatan efisiensi termal mesin ICE dari sekitar 40% pada mesin tiga silinder 1,2 liter Z12E saat ini menjadi hingga 50% pada powertrain masa depan.
Target tersebut akan didukung sejumlah teknologi, seperti pembakaran lean dengan EGR tinggi, pemulihan panas buang, pelumas dengan viskositas rendah, material nano-karbon, serta optimalisasi siklus Miller.
Suzuki Ingin Mobil Tetap Ringan
Pengurangan bobot juga menjadi bagian penting dalam strategi Suzuki. Regulasi keselamatan dan emisi yang semakin ketat diperkirakan akan menambah bobot kendaraan hingga sekitar 80 kg mulai 2030 dan seterusnya.
Untuk mengimbanginya, Suzuki menargetkan pengurangan bobot sekitar 100-120 kg pada setiap kendaraan tanpa mengorbankan aspek keselamatan. Melalui program "S Light", para insinyur Suzuki mengembangkan berbagai solusi untuk memangkas bobot hingga detail terkecil.
Salah satunya adalah penggunaan baut M8 dengan kepala lebih kecil yang dapat menghemat sekitar 1 gram per baut. Dengan lebih dari 2.000 pengencang dalam satu kendaraan, penghematan tersebut dapat terakumulasi.
Suzuki juga akan menggunakan baja ultra-tarik berkekuatan 1.470 MPa pada bagian kendaraan yang membutuhkan perlindungan tinggi saat terjadi benturan.
SDV Lite hingga ECU Baru Mulai 2031
Dalam strategi teknologi masa depannya, Suzuki turut memperkenalkan konsep "SDV Lite", yakni arsitektur kendaraan yang didefinisikan perangkat lunak dengan tingkat kompleksitas yang lebih sederhana.
Di sektor keselamatan, Suzuki ingin mengembangkan struktur kendaraan yang dapat mengalihkan massa berat menjauh dari kabin penumpang ketika terjadi kecelakaan. Perusahaan juga berencana menstandarkan sistem ADAS di seluruh jajaran kendaraan masa depannya.
Mulai 2031, Suzuki menargetkan penggunaan ECU Zona Pusat yang dapat memangkas biaya elektronik hingga 30% sekaligus mengurangi bobot modul sekitar 15%.
Suzuki Pangkas Waktu Pengembangan untuk Hadapi Persaingan China
Suzuki juga ingin mempercepat proses pengembangan kendaraan agar dapat bersaing dengan produsen mobil China yang memiliki siklus pengembangan semakin cepat.
Perusahaan menargetkan waktu pengembangan kendaraan dipangkas menjadi 24 bulan pada 2030, atau sekitar setengah dari waktu yang dibutuhkan saat ini.
Untuk mencapai target tersebut, Suzuki akan meningkatkan efisiensi pengembangan sekitar 30% dan efisiensi produksi hingga 50% di pabrik Manesar, India.
Digitalisasi serta penggunaan komponen modular akan menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Selain mempercepat pengembangan, Suzuki menargetkan kapasitas produksi tahunan di India meningkat menjadi 4 juta unit pada 2030.
Dengan strategi tersebut, Suzuki tidak hanya menyiapkan kendaraan listrik murni, tetapi juga mild hybrid, HEV seri, REEV, dan mesin bensin generasi baru. Pendekatan multi-powertrain ini menjadi cara Suzuki mempertahankan fleksibilitas teknologi sambil menghadapi perubahan regulasi dan perkembangan pasar kendaraan listrik global.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh