Nusantaratv.com-Analis sepak bola Haris Pardede menyampaikan kritik tajam terkait peluncuran film dokumenter Tim Nasional Indonesia bertajuk The Longest Wait. Bung Harpa membongkar sederet kejanggalan struktur, pergeseran alur cerita, hingga indikasi penutupan fakta-fakta krusial dalam karya dokumenter tersebut.
Tak hanya dari Bung Harpa, film tersebut juga menuai gelombang kritik dari netizen. Bung Harpa menilai bahwa kekecewaan publik terhadap film dokumenter ini sangat beralasan, terutama terkait minimnya kemunculan sosok mantan pelatih Shin Tae-yong (STY) serta ketidakseimbangan durasi penayangan.
Menurutnya, sebuah film dokumenter seharusnya bertindak sebagai dokumen fakta yang disusun secara holistik dan kronologis, bukan sekadar potongan-potongan dramatisasi tanpa alur yang jelas. Bila dibandingkan dengan dokumenter olahraga internasional seperti kisah Jose Mourinho di platform Netflix, The Longest Wait dinilai kehilangan arah narasi utamanya.
Bung Harpa menggarisbawahi dua kelemahan mendasar dalam konstruksi film tersebut: ketimpangan porsi peran dan alur penayangan yang melompat-lompat. Ketidakjelasan alur membuat pesan utama film menjadi kabur bagi para penonton:
"Sequences film itu kan bukan seperti film dokumenter Jose Mourinho yang menceritakan dari awal di Portugal, penerjemah, naik jadi pelatih Porto, hingga konflik-konfliknya. Di sini enggak seperti itu, loncat-loncat. Saya pribadi agak bingung ini mau menceritakan apa, message-nya apa," ujar Bung Harpa saat hadir sebagai narasumber dalam program NTV SPORTCAST di Nusantara TV, Minggu (1/11/2026) yang dipandu Host Marco Tampubolon.
Bung Harpa mengungkap fakta latar belakang mengenai proses produksi film dokumenter tersebut. Berdasarkan informasi yang diterimanya, proyek dokumenter ini sebenarnya telah digagas sejak kurun waktu 2025 sebelum bergulirnya Putaran 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zone Asia. Ide awalnya adalah mendokumentasikan pencapaian bersejarah apabila Timnas Indonesia berhasil menembus putaran final Piala Dunia.
Namun, ketika langkah Timnas Indonesia terhenti di kualifikasi Piala Dunia, arah dan fokus penggarapan film tersebut mendadak bergeser.
"Setelah barang ini enggak dapat, gagal ke Piala Dunia, akhirnya berubah konsep, mungkin berubah budget, bahkan yang menggarap pun berubah. Dari tadinya menggarap agensi A, sekarang jadi agensi B. Di situ banyak peristiwa turning point yang penuh dengan kegelapan atau abu-abu yang tidak terungkap," ungkapnya Bung Harpa.
Sebagai seorang penikmat sepak bola dan kajian jurnalistik, Haris Pardede menekankan pentingnya kejujuran dalam menyampaikan fakta sejarah. Menurutnya, mengumbar keberhasilan sembari menyembunyikan dinamika konflik internal adalah bentuk pengkerdilan edukasi publik. Ada sejumlah insiden kunci yang seharusnya dibuka secara transparan dalam dokumenter tersebut untuk dijadikan bahan evaluasi nasional.
Bung Harpa menyinggung beberapa peristiwa sensitif yang dipertanyakan keberadaannya dalam film: kepastian mengenai dugaan perselisihan di ruang ganti pemain setelah pertandingan melawan Bahrain dan China. Kejujuran di balik dinamika pemberhentian dan penunjukan sosok pelatih baru. Kejelasan rumor adanya pertemuan penting yang dipimpin oleh figur berinisial "CJ" tanpa menghadirkan sang pelatih kepala.
"Saya mengawali dengan ungkapan: berbuat salah itu it's ok, tapi belajarlah dari kesalahan tersebut. Krikil-krikil inilah yang sebenarnya—saya enggak tahu apakah ini menjadi budaya kita untuk menyimpan kesalahan atau kebusukan—padahal itu sebenarnya enggak masalah untuk kita bahas supaya tidak terulang lagi," tutur Haris.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh